Jakarta – Selat Hormuz memanas di tengah konflik global, tapi Presiden Prabowo menegaskan Indonesia tak goyah. Dengan cadangan energi kuat dan strategi alternatif, RI diyakini tetap aman tanpa tekanan besar.

Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Indonesia masih memiliki ketahanan energi yang cukup kuat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat kerja pemerintah di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Prabowo menyebut Selat Hormuz sebagai jalur strategis yang sangat penting bagi distribusi energi global, namun ketergantungan Indonesia terhadap jalur itu dinilai tidak besar.

Menurutnya, konflik yang melibatkan Iran serta koalisi Amerika Serikat dan Israel berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan minyak dunia.

Meski begitu, pemerintah telah melakukan kajian dan menilai kondisi ekonomi nasional masih cukup kuat menghadapi dampak tersebut.

“Selat Hormuz penting bagi banyak negara, tetapi kita tidak terlalu bergantung di sana,” kata Prabowo.

Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi, salah satunya melalui pengendalian konsumsi bahan bakar dalam jangka pendek.

Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga kestabilan pasokan energi nasional, setidaknya dalam 12 bulan ke depan.

Prabowo menyebut Indonesia memiliki cadangan energi yang cukup besar, terutama dari batu bara yang bisa diolah menjadi bahan bakar seperti solar dan bensin.

Selain itu, pemerintah juga melihat potensi energi alternatif dari sumber nabati seperti singkong dan jagung.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat.

Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

Meski demikian, pemerintah tetap memantau perkembangan situasi global dan menyiapkan berbagai langkah lanjutan guna memastikan pasokan energi nasional tetap aman.